Skip to content
Selasa, Juni 9
  • TENTANG KAMI
  • Home
  • DISCLAIMER
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • KODE ETIK
  • PEDOMAN MEDIA SIBER

Seputar Purworejo

Inspiratif, Edukatif dan Terpercaya

Seputar Purworejo

Inspiratif, Edukatif dan Terpercaya

  • Home
  • News
  • Home
  • News
Trending Now
  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia , Kabupaten Purworejo, Perkuat Kolaborasi Menuju Indonesia Asri
  • Wabup Dion Dorong Insentif bagi Daerah Penyangga Pangan Karena Purworejo Lampaui Target LP2B
  • Pemkab Purworejo Mendukung Program-Program Strategis Provinsi Jateng Tahun 2027
  • Bupati Purworejo Berharap Perayaan Waisak Untuk Perkuat Semangat Kerukunan dan Toleransi
  • Sebanyak 108 Ribu Masyarakat Purworejo Terima Bantuan Beras dan Minyak Realiasi Program Cadangan Pangan Pemerintah
  • Desa Pogungjurutengah Purworejo Terima Sapi Kurban Bantuan Presiden RI
Home>>Pariwisata dan Kebudayaan>>Pengetan Jumenengan Sebagai Bentuk Nguri-Uri Budaya Sejarah Purworejo
Pariwisata dan Kebudayaan

Pengetan Jumenengan Sebagai Bentuk Nguri-Uri Budaya Sejarah Purworejo

Redaksi Seputarpurworejo27 Februari 20230

 

Acara Jumenengan Hari Jadi Dipendopo Bupati Purworejo

 

 

PURWOREJO, seputarpurworejo.com – Puncak Peringatan Hari Jadi Ke 192 Kabupaten Purworejo ditandai dengan Pengetan Jumenengan di Pendopo Kabupaten Purworejo. Harapan dengan adanya Pengetan Jumenengan ini, tentunya masyarakat Purworejo akan semakin sejahtera, kami berharap generasi muda mengerti sejarah Purworejo dan nguri-nguri budaya untuk jati diri Kabupaten Purworejo

Hadir langsung dalam acara sakral tersebut Bupati RH Agus Bastian SE MM, Wabup Hj Yuli Hastuti SH, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto, Perwakilan Direktorat Event Daerah Kemenparekraf, Trindiana M Tikupasang, Pelaksana Badan Otorita Borobudur Yusuf Hartanto, Jajaran Forkopimda beserta istri, para kepala Perangkat Daerah, serta RH Budhi Sardjono BE yang merupakan keturunan RAA Tjokronegoro.

 

Dalam sambutan berbahasa Jawa, Bupati RH Agus Bastian SE MM mengucapkan terimakasih kepada para tamu undangan dan mengapresiasi semua pihak terkait yang telah ikut serta dalam pembangunan Kabupaten Purworejo.

 

”Ada rasa dan kegembiraan yang luar biasa di hati, karena dukungan yang besar dari masyarakat di seluruh wilayah Purworejo. Semuanya dapat berjalan dengan lancar,” jelas Bupati.

 

Lebih lanjut Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk meneruskan perjuangan pembangunan para pendahulu, demi membawa Purworejo lebih maju di masa yang akan datang.

 

“Kami berharap dengan adanya Pengetan Jumenengan ini, tentunya masyarakat Purworejo akan semakin sejahtera, kami berharap generasi muda mengerti sejarah Purworejo dan nguri-nguri budaya untuk jati diri Kabupaten Purworejo,” kata Bupati.

 

Pengetan Jumenengan menampilkan dua pagelaran sendratari  utama, yaitu Beksan Kidung Cakra dan Beksan Cakra Tunggal. Beksan Kidung Cakra  merupakan tarian yang ditampilkan khusus, yakni pada Pengetan Jumenengan Bupati pertama Purworejo RAA Tjokronegoro I. Beksan Kidung Cakra merupakan karya seniman tari Purworejo Melania Sinaring Putri yang diperagakan oleh tujuh penari perempuan. Beksan Kidung Cakra merupakan tarian yang mengisahkan lingkaran kehidupan manusia yang terus berputar.

 

Sedangkan Beksan Cakra Tunggal merupakan sebuah karya tari yang terinspirasi dari keberanian dan kepemimpinan tokoh Bupati pertama RAA Tjokronegoro I. Beksan Cakra Tunggal karya seniman Wibi Supri Andoko menceritakan tentang semangat keprajuritan, selalu siap berjuang untuk menjalankan tugas dan amanah dalam keadaan apapun.

 

Tarian ini sekaligus menggambarkan karya monumental yang diprakarsai RAA Tjokronegoro I seperti pendopo kabupaten, alun-alun, Bedhug Pendowo, dan saluran irigasi Kedung Putri. Dua tarian tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

 

Beksan Kidung Cakra mewakili kepribadian luhur, sedangkan Cakra Tunggal mengejawantahkan keluhuran tersebut, sehingga tercipta dan menghasikan sebuah karya yang agung.

 

Acara Pengetan Jumenengan diakhiri dengan penyerahan kekancingan oleh Bupati kepada seluruh kepala Perangkat Daerah, masing-masing berupa sebilah keris. Sedang kekancingan untuk 16 camat berupa sebilah tombak. ( Pam ).

 

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Previous Post

Wabup Membuka Pasar Tani, Bazar Durian dan Vaksinasi Rabies

Next Post

Kirab Bregada Wujud Kepedulian Untuk Nguri-Uri Budaya

Related Articles

Pariwisata dan Kebudayaan

Menikmati Libur Panjang di De’Loano Glamping .

Pariwisata dan Kebudayaan

Plt Bupati Purworejo Menyerahkan Bantuan Logistik Pencari Laka Laut

Pariwisata dan Kebudayaan

Meskipun Masa Pandemi Covid 19 , Seniman Muda Purworejo Usung “Bedhug Pendowo Jati” di Pentas Duta Seni TMII

Pariwisata dan Kebudayaan

PPKM Level IV Covid 19 , Pemkab Purworejo Masih Menutup Alun-Alun Untuk Aktifitas Warga Masyarakat

Pariwisata dan Kebudayaan

Glamping DeLoano Diharapkan Membangun Ekonomi Kreatif Terintegrasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia , Kabupaten Purworejo, Perkuat Kolaborasi Menuju Indonesia Asri
  • Wabup Dion Dorong Insentif bagi Daerah Penyangga Pangan Karena Purworejo Lampaui Target LP2B
  • Pemkab Purworejo Mendukung Program-Program Strategis Provinsi Jateng Tahun 2027
  • Bupati Purworejo Berharap Perayaan Waisak Untuk Perkuat Semangat Kerukunan dan Toleransi
  • Sebanyak 108 Ribu Masyarakat Purworejo Terima Bantuan Beras dan Minyak Realiasi Program Cadangan Pangan Pemerintah

Komentar Terbaru

    © 2026 Seputar Purworejo | WordPress Theme Ultra Seven
    • Home
    • News

    Memuat Komentar...

      %d